Loading

Rabu, 29 Januari 2014

TROMBOPLEBITIS
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu. Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya bayi dan partus yang artinya melahirkan atau berarti masa sesudah melahirkan. Asuhan kebidanan masa nifas adalah penatalaksanaan asuhan yang diberikan pada pasien mulai dari saat setelah lahirnya bayi sampai dengan kembalinya tubuh dalam keadaaan seperti sebelum hamil atau mendekati keadaan sebelum hamil. Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selama 6-8 minggu setelah persalinan. Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil/tidak hamil sebagai akibat dari adanya perubahan fisiologi dan psikologi karena proses persalinan (Saleha, 2009).lihat selengkapnya...
TUGAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
“KONSEP KESEHATAN MASYARAKAT”

Masalah kesehatan merupakan masalah yang sangat penting yang di hadapi oleh masyarakat kita saat ini .Semakin maju teknologi di bidang kedokteran, semakin banyak pula macam penyakit yang mendera masyarakat.Hal ini tentu sajadi pengaruhi oleh faktor tingkah laku manusia itu sendiri. Tapi apakah benar hanya faktor tingkah laku saja yang mempengaruhi derajat  kesehatan masyarakat? Sebelum membahas tentang masalah kesehatan masyarakat tentunya lebih baik jika kita memahami konsep dari kesehatan masyarakat itu terlebih dahulu

Selasa, 28 Januari 2014


GAMBARAN PELAKSANAAN ASUHAN SAYANG IBU PADA PERSALINAN NORMAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Cara yang paling mudah membayangkan mengenai asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri, “seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?” atau “apakah asuhan yang seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?” (P2KS, 2007).
Asuhan sayang ibu terpusat pada ibu dan bukan pada petugas kesehatan, dan selalu melihat dahulu kecara pengobatan yang sederhana dan non interventive sebelum berpaling keteknologi (Pusdiknakes, 2003).
Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, malahan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, bidan harus bisa memastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama persalinan (JNPK-KR, 2004).
Di seluruh Negara masih banyak kekurangan tenaga kesehatan yang professional guna menolong persalinan pada setiap ibu yang hendak bersalin, sehingga ibu-ibu yang tidak mau meminta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk memberikan perawatan selama mereka dalam proses persalinan dan menolong proses kelahiran mereka. Sebagian dari alasan mereka adalah karena penolong persalinan yang sudah terlatih tersebut tidak memperhatikan kebutuhan mereka, tradisi maupun kebutuhan pribadi mengenai bagaimana keinginan mereka saat persalinan dan kelahiran bayinya (Pusdiknakes, 2001).lihat selengkapnya...

HUBUNGAN INISIASI MENYUSU DINI DENGAN PERUBAHAN INVOLUSI
UTERI PADA IBU NIFAS DI BPS ANIK S,Amd.Keb
Indriana
Fitria Hayu Palupi,SST.Mkes *)
ABSTRAK
Pada masa nifas terjadi perubahan-perubahan baik secara fisik maupun
psikologi. Apabila proses involusi tidak berjalan dengan baik, maka akan
menimbulkan suatu keadaan yang disebut subinvolusi  yang akan menyebabkan
perdarahan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Februari dan
Maret 2011 diperoleh data dari BPS Ny. Anik S, Amd.Keb jumlah persalinan 20 partus.
Dimana dari 10 ibu post partum 2 orang langsung menyusui bayinya segera setelah
bayi lahir, 3 orang menyusui bayinya 1 jam setelah lahir, 5 orang langsung diberikan
susu formula. Setelah dilakukan observasi 2 jam post partum kondisi ibu yang
langsung menyusui bayinya lebih cepat pulih. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisa hubungan antara inisiasi menyusu dini dengan perubahan involusi uteri
pada ibu nifas.
Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan prospektif.
Waktu penelitian dilakukan di bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2011 di BPS
Anik S Mojosongo Surakarta. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik
Nonprobability Sampling secara Sampling Jenuh dengan respondennya 20 orang.
Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan checklist.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara inisiasi
menyusu dini dengan perubahan involusi uteri pada ibu nifas sebesar 11,667, dengan
coefisien contigency didapatkan nilai c = 0,607 yang berarti memiliki keeratan
hubungan yang kuat.
Simpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan
antara inisiasi menyusu dini dengan perubahan involusi uteri pada ibu nifas yaitu
semakin baik pelaksanaan IMD maka akan semakin baik pula perubahan involusi.
*) Akbid Mitra Surakarta  read more...

American Society for Nutritional Sciences
The Epidemiologi Adverse Kehamilan Hasil : An Overview1
Michael S. Kramer2
Penulis Afiliasi

Departemen of Pediatrics dan Epidemiologi & biostatistik , Universitas McGill Fakultas Kedokteran , Montreal , Quebec , Kanada
2To siapa korespondensi harus ditangani . E - Mail: michael.kramer @ mcgill.ca .


abstrak

Makalah ini memberikan gambaran tentang terjadinya , etiologi dan tren temporal hasil kehamilan yang merugikan . Disparitas antara negara maju dan berkembang yang disorot untuk kematian ibu , kematian bayi , kematian janin dan berat lahir rendah . Tingkat yang lebih tinggi dari berat lahir rendah di negara-negara berkembang terutama karena pembatasan pertumbuhan intrauterin daripada kelahiran prematur . Sebagian besar pembatasan pertumbuhan intrauterin kelebihan disebabkan oleh perawakan ibu pendek , rendah sebelum hamil indeks massa tubuh dan berat badan kehamilan rendah ( karena asupan energi yang rendah )  lihat selengkapnya....

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BALITA TERHADAP KELENGKAPAN
IMUNISASI DPT DI DESA SURABAYAN KECAMATAN WONOPRINGGO KABUPATEN
PEKALONGAN TAHUN 2003 
DIMASQI -- E2A301212 
(2004 - Skripsi) 


Keberhasilan program imunisasi DPT belum mencapai seperti apa yang diharapkan. Salah satu
penyebab utamanya adalah masih banyak anak yang mengalami droup  out pada pemberiaan
vaksin ulangan. Untuk ini diperlukan kesadaran dari para orang tua agar  anaknya mendapat
imunisasi DPT lengkap. Kesadaran akan timbul bila didasari dengan tingkat pengetahuan yang
baik tentang imunisasi DPT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor perilaku ibu
balita yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi DPT pada anak. Metode penelitian ini adalah
survei secara deskriptif dengan menggunakan pendekatan  Cross sectional.Hasil penelitian
terhadap 65 ibu balita menunjukkan bahwa pendidikan ada hubungan yang bermakna dengan
tingkat pengetahuan ibu balita tentang imunisasi DPT. Secara statistik ada hubungan yang
bermakna antara tingkat pengetahuan ibu balita tentang imunisasi DPT  dengan kelengkapan
imunisasi DPT. Sikap ibu balita terhadap imunisasi DPT ada hubungan yang bermakna dengan
kelengkapan imunisasi DPT. Tingkat pengetahuan ibu balita tentang imunisasi DPT pada
umumnya dalam kategori kurang. Sedangkan ibu balita terhadap imunisasi DPT dalam kategori
cukup. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi pada umumnya dan imunisasi DPT
pada khusunya perlu ditingkatkan penyuluhan imunisasi pada ibu-ibu balita  melalui kegiatan
Posyandu dan Kegiatan organisasi sosial kemasyarakatan yang ada didesa. Lihat selengkapnya disini
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU IBU BEKERJA DAN IBU TIDAK BEKERJA TENTANG IMUNISASI MUHAMMAD ALI 


 Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 


BAB  I
PENDAHULUAN 
1. Latar belakang
 Imunisasi telah terbukti sebagai salah satu upaya kesehatan masyarakat yang sangat penting. 1 Program imunisasi telah menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dan merupakan usaha yang sangat hemat biaya dalam mencegah penyakit menular. 2,3 Imunisasi juga telah berhasil menyelamatkan begitu banyak kehidupan dibandingkan dengan upaya kesehatan masyarakat lainnya. 4 Program ini merupakan intervensi kesehatan yang paling efektif, yang berhasil meningkatkan angka harapan hidup. 5 Sejak penetapan the Expanded Program on Immunisation (EPI) oleh WHO, cakupan imunisasi dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh dunia. Sekurang-kurangnya ada 2,7 juta kematian akibat campak, tetanus neonatorum dan pertusis serta 200.000 kelumpuhan akibat polio yang dapat dicegah setiap tahunnya.Vaksinasi terhadap 7 penyakit telah direkomendasikan EPI sebagai imunisasi rutin di negara berkembang: BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B. 3 Banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat. 6 Banyak pula orang tua dan kalangan praktisi tertentu khawatir terhadap risiko dari beberapa vaksin. 4, Adapula media yang masih mempertanyakan manfaat imunisasi serta membesar-besarkan risiko beberapa vaksin. Penelitian Davies mendapatkan bahwa 43% situs yang ada di internet merupakan situs anti vaksinasi. 7 Semua keadaan ini pada akhirnya dapat menyebabkan rendahnya angka cakupan yang ingin dicapai. 8,9 Pengembangan Program Imunisasi (PPI) di Indonesia yang dilaksanakan mulai tahun 1979 (awal PELITA III) menghadapi masalah yang sama dengan yang dijumpai di berbagai negara di dunia, yaitu rendahnya angka cakupan imunisasi dan tingginya angka drop-out kunjungan ulangan. Menurut Lubis, dari suatu penelitian yang dilakukan Gunawan didapatkan bahwa kurangnya peran serta ibu rumah tangga dalam hal ini disebabkan karena kurang informasi (60-75%), kurang motivasi (2-3%) serta hambatan lainnya (23-37%). lihat  selengkapnya